Pawai Budaya Sedekah Laut Tasikagung Rembang Bikin Pantura Lumpuh Total

Pawai Budaya Sedekah Laut Tasikagung Rembang Bikin Pantura Lumpuh Total

REMBANG – Jalan nasional Pantura Rembang mendadak lumpuh selama 3,5 jam pada Minggu pagi (7/4) kemarin.

Bukan karena bencana, melainkan karena pawai budaya spektakuler yang digelar dalam rangka Sedekah Laut Desa Tasikagung.

Ribuan warga tumpah ruah memadati sepanjang rute arak-arakan, menyaksikan parade kostum adat, miniatur kapal, dan hasil bumi yang memamerkan kekayaan budaya maritim Rembang.

Acara ini menjadi puncak dari tradisi tahunan masyarakat nelayan Desa Tasikagung, yang digelar setiap bulan Syawal sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki laut dan harapan keselamatan dalam mencari nafkah di tengah gelombang.

Pantura Macet Total, Warga Tetap Antusias

Arak-arakan dimulai pukul 08.00 WIB dari kawasan Klenteng Tjoe Hwie Kiong, lalu melintasi jalan nasional Pantura, masuk ke jalan Dr. Wahidin, berbelok di perempatan Zaeni ke arah utara menuju Tugu Adipura, sebelum kembali ke barat menyusuri pantura dan finis di Desa Tasikagung.

Sebanyak 11 kelompok peserta yang terdiri dari 9 RT dan 2 paguyuban, masing-masing membawa rombongan sekitar 100 orang.

Mereka menampilkan berbagai atraksi budaya lokal, seperti barongan, tari tradisional, iring-iringan hasil bumi, dan bahkan miniatur perahu nelayan yang ditandu ramai-ramai.

Tak pelak, jalur utama pantura pun ditutup total selama 3,5 jam.

Petugas dari kepolisian, TNI AL, dan Polairud tampak sigap mengatur arus lalu lintas dan mengalihkan kendaraan ke jalur alternatif.

Namun, kemacetan tak terhindarkan. Tim Radar Kudus melaporkan, waktu tempuh dari area Pentungan ke pertigaan Jeruk yang biasanya hanya 5 menit, berubah menjadi hampir 1 jam akibat padatnya arus lalu lintas.

Tradisi Turun-Temurun yang Menyatu dengan Identitas Nelayan
Kepala Desa Tasikagung, Mochammad Riyanto, mengatakan bahwa pawai budaya ini merupakan warisan leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat pesisir. “Ini sudah menjadi suatu tradisi turun temurun.

Dari saya muda sudah ada sedekah laut dan bumi. Termasuk pawai, namanya juga daerah nelayan, ada larung sesaji,” ujarnya.

Setiap RT menyumbang biaya sendiri untuk tampil dalam pawai ini, dengan dana berasal dari kas RT, iuran warga, dan bantuan paguyuban.

Polda Jateng, Kapolda Jateng, Irjen Pol Ribut Hari Wibowo, Kombes Pol Artanto, Jawa Tengah, Jateng, Kombes Pol Ari Wibowo, AKBP Ike Yulianto Wicaksono, Artanto, Ribut Hari Wibowo