Tokoh Papua Yogyakarta Serukan Himbauan kepada Warga Papua di Yogyakarta untuk Tidak Terprovokasi Isu-Isu Yang Dapat Menimbulkan Perpecahan
Yogyakarta - Pendeta Beni Dimara, tokoh masyarakat Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengeluarkan himbauan penting kepada seluruh warga Papua yang berada di wilayah Yogyakarta. Pendeta Beni menekankan pentingnya peran aktif warga Papua dalam menciptakan suasana damai, sekaligus menjaga nama baik masyarakat Papua di tengah keberagaman kehidupan sosial yang ada di kota pelajar.
Maraknya status facebook muda mudi Papua yang menuliskan, “malam sambut tahun baru adalah hari mabuk sedunia”, juga melihat situasi mahasiswa Papua di Yogyakarta yang seakan mengaminkan hal itu, Pendeta Beni Dimara selaku pemimpin Gereja Kristen Nazaret Eklesia Papua Yogyakarta mengatakan, mabuk bukan identitas Orang Papua.
"Saya selama 25 tahun hidup bersama anak Papua di Yogyakarta, saya tahu bagaimana sumber daya manusia Papua mati hanya karena mabuk," katanya.
Lanjutnya, setiap tahun anak Papua kecelakaan dan meninggal karena mabuk. Kalau seperti ini, yang mau bangun Tanah Papua itu siapa?
"Kita mau harap siapa lagi? Kita bangga dengan identitas Orang Asli Papua (OAP), yang membuat orang di luar kadang menganggapan OAP adalah kelas high tetapi kita sendiri tidak menjaga diri," lanjutnya.
Orang Papua mengalami degradasi kepercayaan terhadap Tuhan. Anak muda seakan tidak peduli dengan adanya Tuhan. Ini memperburuk pola pikir Orang Papua dengan menganggap hal mabuk-mabukan adalah lumrah dan akan terus dibawa sampai ke luar Papua, khususnya yang sedang belajar di Yogyakarta.
"Pola pikir ini yang harus dirubah. Harusnya bersyukur, bukan dengan mabuk-mabuk," ucap Pendeta Beni. Pendeta Beni juga berharap, Geraja di manapun, khususnya di Tanah Papua untuk lebih vokal berbicara persoalan ini. Karena baginya, gereja bukan untuk memperbesar bangunan atau jemaat tetapi menyelamat jiwa Orang Papua itu sendiri. Anak-anak Papua yang merantau untuk belajar dan membangun masa depan, mari kita tunjukkan bahwa kita mampu hidup berdampingan, saling menghargai.
Budaya Papua sangat menghormati tokoh adat, pemuka agama serta sesepuh dalam komunitas mereka. Dalam budaya Papua, suara dari tokoh atau sesepuh dianggap sebagai arahan yang memiliki kekuatan moral dan sosial yang besar sehingga lebih mudah diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat dibandingkan dengan himbauan dari pihak luar. Budaya Papua yang mengutamakan rasa hormat terhadap tokoh adat, pemuka agama, dan sesepuh telah membentuk cara pandang warga Papua terhadap pemimpin mereka.
Pendeta Beni juga menekankan bahwa menjaga citra positif masyarakat Papua di perantauan adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga. (*)