Siswa di Purwokerto Diduga Jadi Korban Perundungan, Dirawat 16 Hari di RS
PURWOKERTO - DPN (16), siswa SMA negeri di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, diduga mengalami perundungan saat mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Ia mengalami trauma dan harus menjalani perawatan di rumah sakit selama 16 hari.
Kasus ini terungkap setelah orangtua DPN, Ah (48), menceritakan kronologi yang dialami putra sulungnya itu.
Menurutnya, DPN awalnya menjalani perawatan selama empat hari di RS DKT Purwokerto dan sempat didiagnosa radang otak.
Namun, kondisi tersebut kemudian tidak terbukti setelah ia dirujuk dan dirawat lebih lanjut di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto selama 12 hari.
"Total, anak saya dirawat 16 hari di rumah sakit."
"Dokter berpesan supaya anak tidak ditekan dulu karena sekarang sedang mengalami kecemasan dan trauma," ujar Ah kepada Tribunbanyumas.com, Jumat (8/8/2025).
Ah mengisahkan, kecurigaan perundungan terungkap di hari kedua MPLS, Selasa (4/7/2026).
DPN enggan berangkat sekolah.
MPLS di sekolah DPN dimulai pada Senin (14/7/2025).
Saat pulang, sore harinya, DPN masih bisa diajak bicara namun menolak menjawab saat ditanya alasan enggan masuk sekolah dan mulai menampakan murung.
Keesokan harinya, Rabu (16/7/2025) pagi, bibi DPN menanyakan hal serupa.
Saat itulah DPN bercerita ia telah dipukul bagian perut oleh tiga temannya.
Hingga akhirnya, di hari yang sama, DPN dibawa ke rumah sakit pada Rabu malam.
Meski demikian, hingga kini, ia belum mau mengungkap alasan dibalik kejadian tersebut.
"Sejak itu, anak saya jadi pendiam."
"Padahal, biasanya dia berbicara seperti anak-anak pada umumnya," tutur Ah.
Ah mengatakan, putranya baru pulang dari RSUD Margono Soekarjo pada Sabtu (2/8/2025).
Sejak saat itu, DPN sulit tidur nyenyak di kamar sendiri dan memilih tidur di ruang depan rumah.
Jalur Zonasi Khusus
DPN merupakan warga Kecamatan Purwokerto Selatan.
Ia masuk ke SMA lewat jalur zonasi khusus yang memperhitungkan kategori usia sesuai syarat penerimaan siswa baru.
Orangtua mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah.
"Saya minta keadilan untuk anak saya supaya pelakunya dilacak."
"Saat MPLS itu, dia belum kenal dengan teman-temannya, jadi belum banyak berinteraksi."
"Waktu kecil memang pernah mengalami step, tapi setelah itu tidak pernah ada masalah, termasuk saat SMP," kata Ah.