Polwan dan Dinsos Malang Kompak Lawan Kekerasan terhadap Perempuan

Polwan dan Dinsos Malang Kompak Lawan Kekerasan terhadap Perempuan

Kota Malang – “Diam itu emas, tapi berani bicara kebenaran, kilaunya lebih dari emas.” Kalimat yang menjadi ruh kampanye “Rise and Speak: Dorong Perempuan Berani Bicara Lawan Kekerasan”.

Rise and Speak Polresta Malang Kota dalam rangka memperingati HUT ke-77 Polwan ini dilaksanakan di aula Kecamatan Sukun ini, dihadiri mulai Dinsos Kota Malang, Ibu Camat Sukun, pelajar dari SMK PGRI 2 dan SMP Nasional, anggota PKK, ibu-ibu perwakilan tiap RT dan RW di wilayah Kecamatan Sukun.

Kabag SDM Polresta Malang Kota sekaligus Polwan senior, Kompol Sophia Soegestie Mustary SH menegaskan bahwa Rise and Speak dalam rangka memperingati HUT Polwan kali ini memperkuat perlindungan perempuan dan anak.

“Polri bersama mitra strategis mendukung penuh perlindungan Perempuan dan anak, serta cegah perdagangan orang (PPO). Keberanian untuk bersuara harus terus kita dorong agar korban tidak lagi merasa sendiri,” ungkap Kompol Sophia.

Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang melalui Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Fulan Diana Kusumawati, menambahkan bahwa pendampingan korban dan edukasi sejak dini menjadi kunci penting dalam pencegahan.

Melalui kolaborasi antar pemerintah dan penegak hukum, negara hadir melindungi dan mendampingi kelompok rentan dari ancaman kekerasan.

Disesi diskusi Kanit PPA II Polresta Malang Kota, Iptu Khusnul Khotimah SE menekankan aspek hukum, bahwa kekerasan baik fisik, psikis, maupun seksual adalah tindak pidana yang wajib diproses hukum.

“Kekerasan adalah perbuatan yang menimbulkan penderitaan fisik, psikis, seksual, hingga penelantaran.”

“Termasuk ancaman, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan yang melawan hukum, kami siap hadir melindungi korban dan menindak pelaku,” tegas Iptu Khusnul.

Ia juga menekankan tiga tujuan utama mencegah segala bentuk kekerasan, melindungi korban, serta menindak tegas pelaku.

Berdasarkan catatan lima tahun terakhir, tren kasus kekerasan di Malang masih menunjukkan angka mengkhawatirkan.

Kasus terhadap perempuan tertinggi tercatat pada 2020 (34,9%), sementara kekerasan terhadap anak meningkat tajam pada 2023.

Meski 2024 angkanya menunjukkan penurunan, namun tetap perlunya ada langkah preventif dan sinergi kuat dari berbagai pihak.

Acara ini semakin hidup dengan melibatkan audiens dalam interaksi langsung dan berdiskusi melalui sesi tanya jawab.

Bagi peserta yang berani bertanya atau menyuarakan pendapat, panitia memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi keberanian.

Tak hanya itu, peserta juga mendapat secarik kertas untuk menuliskan harapan mereka terkait PPA, kemudian ditempelkan pada “Wall Hope”, menjadi simbol komitmen bersama melawan kekerasan.

Polri bersama Dinsos dan masyarakat berkomitmen membangun budaya baru: budaya keberanian untuk bersuara.

“Suara positif dari masyarakat mampu menjaga anak-anak dari ancaman perdagangan orang dan kekerasan gender, Melalui kesadaran digital, kita harus berani menolak segala bentuk kekerasan,” Pungkas Iptu Khusnul.

Peringatan HUT ke-77 Polwan ini menjadi bukti bahwa peran Polwan tidak sebatas di ruang penegakan hukum, tetapi juga hadir sebagai garda depan dalam perjuangan kemanusiaan.