Polisi Selidiki Kasus Bocah di Malang Terluka Parah akibat Pintu Truk Ekspedisi
Malang – Insiden memilukan terjadi di kawasan Graha Sukun Permai, Kota Malang. Seorang bocah perempuan berusia 5 tahun menjadi korban kecelakaan usai terhantam pintu belakang truk ekspedisi milik JNT Cargo pada Minggu, 2 Maret 2025. Meski insiden ini terjadi dua bulan lalu, kasus ini baru viral setelah sang ibu membagikan kronologi dan kondisi terkini anaknya di media sosial.
Dalam unggahan Instagram Story-nya, ibu korban, Fenny, mengungkap bahwa putrinya mengalami pembengkakan otak. Keluhan tersebut muncul setelah sang anak kerap mengeluh pusing dan sering menangis dalam dua pekan terakhir.
CT scan kepala yang dilakukan membuktikan adanya cidera serius. Namun, menurut Fenny, pihak sopir dan manajemen ekspedisi JNT Cargo memberikan respons yang sangat minim.
“Saya sudah menghubungi pihak ekspedisi, tapi respon mereka sangat lambat, padahal hasil CT scan jelas menunjukkan ada pembengkakan otak,” tulis Fenny.
Keluarga Korban Lapor Polisi
Fenny pun melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Malang Kota. Hasilnya, mediasi dilakukan antara pihak keluarga korban dengan sopir dan manajemen ekspedisi.
Kepada wartawan, Fenny menceritakan kronologi kecelakaan. Saat kejadian, sang anak baru saja pulang bermain dan berjalan menuju rumah. Tiba-tiba, pintu belakang truk ekspedisi JNT Cargo yang sedang melintas terbuka dan menghantam tubuh bocah tersebut hingga tersungkur.
“Saya sedang jualan di rumah, tiba-tiba dipanggil tetangga. Katanya anak saya jatuh karena tertabrak truk. Sopirnya bilang kena di bagian punggung,” ujar Fenny, Sabtu (10/5/2025).
Awalnya, karena tidak terlihat luka serius, Fenny tidak langsung menanyakan identitas sopir. Namun, rasa penasaran membuatnya memeriksa rekaman CCTV warga di sekitar lokasi. Dari rekaman itulah terlihat bahwa kepala anaknya yang sebenarnya terhantam pintu truk.
Lantaran tak ada luka luka, Fenny tak meminta identitas pengemudi truk ekspedisi itu. Namun sorenya, dia penasaran lalu mencari rekaman CCTV warga di dekat TKP. Ternyata didapati kepala putrinya terhantam pintu truk ekspedisi yang melintas tersebut.
Dia bersama suaminya kemudian mendatangi kantor ekspedisi tersebut namun tak bertemu yang bersangkutan dan hanya dapat nomor ponselnya. Lalu mereka langsung memeriksakan kepala anaknya ke rumah sakit.
“Dokter di IGD bilang itu gak papa. Tapi kalau 3 hari gak sadarkan diri atau muntah nanti balik lagi. Ternyata tak terjadi apa apa setelah 3 hari,” urainya.
Sopir truk itu juga sempat mengirim uang Rp 200 ribu usai dihubungi dan dimintai konfirmasi harus bertanggung jawab jika ada apa apa pada anaknya.
Korban Mulai Sering Pusing
Sebulan lebih berlalu, tepatnya sekitar akhir April 2025, Fenny menyebut anaknya kerap menangis dan mengeluhkan kepala pusing. Setelah 2 pekan melihat keluhan yang sama, kepala anak itu diperiksakan ke rumah sakit lagi.
“Hasil CT scan, 5 Mei 2025 kemarin, kata dokter ada pembengkakan otak karena benturan,” ungkapnya.
Lalu dia meminta tanggungjawab sopir truk itu. Namun tak bisa menyanggupi lantaran tak punya biaya. Fenny kemudian meminta tanggungjawan pihak manajemen ekspedisi tapi tak direspon.
Akhirnya, Fenny melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Satlantas Polresta Malang Kota kemudian melakukan pemeriksaan dan mendatangkan pihak sopir dan manajemen ekspedisi itu hingga terjadi mediasi.
Kasubnit Gakkum Satlantas Polresta Malang Kota, Ipda Futo Parietal mengatakan bahwa kasus kecelakaan tersebut dari awal memang diselesaikan secara kekeluargaan. Namun berjalannya waktu, ada keluhan kesehatan dan keluarga korban tak bisa menemui manajemen ekspedisi.
“Jadi setelah dapat pelaporan, kami mendatangi korban dan pihak ekspedisi. Lalu kami fasilitasi untuk mediasi,” ucapnya.
Hasil mediasi, kedua belah pihak sepakat untuk kembali diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak mengambil langkah hukum. Kemudian juga ada kesepakatan dilakukan pemeriksaan medis lagi pada kepala sang anak. Jika terjadi apa apa, pihak ekspedisi menyatakan siap menanggung biaya pengobatan.