Polda Jateng Enggan Buka Rekaman CCTV Kecelakaan Mahasiswa Unnes Iko Juliant

Polda Jateng Enggan Buka Rekaman CCTV Kecelakaan Mahasiswa Unnes Iko Juliant

SEMARANG – Kabid Humas Polda Jawa Tengah (Jateng) Kombes Pol Artanto menanggapi desakan agar rekaman kamera pengawas atau CCTV yang memperlihatkan momen kecelakaan Iko Juliant Junior segera dibuka kepada publik. Iko merupakan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang penyebab kematiannya masih dipertanyakan sejumlah pihak, meski polisi telah menyatakan dia meninggal akibat kecelakaan.

Terkait desakan agar rekaman CCTV kecelakaan Iko segera dirilis, Artanto menyebut video rekaman CCTV masih menjadi bahan penyidikan tim penyidik. Dia menekankan proses penyidikan membutuhkan ketelitian.

Mahasiswanya Meninggal di Peristiwa Demo, Ini Permintaan Unnes kepada Pemerintah Menguak Tabir Gelap Kematian Mahasiswa Unnes Iko Juliant: Kronologi Versi Polisi Vs Alumni Kampus

"Nanti ada waktunya penyidik meyakini bahwa proses penyidikan sudah selesai, tidak terganggu oleh hal-hal lain, nanti (rekaman CCTV) dibuka ke umum," ujar Artanto, Kamis (11/9/2025).

Soal masih adanya kecurigaan terkait kematian Iko, Artanto menepis hal tersebut. "Kalau kami tidak ada kecurigaan. Kita sesuai dengan prosedur saja, prosesnya pemeriksaan saksi-saksi dan menyusun kronologis peristiwa itu disesuaikan dengan alat bukti yang ada. Kita tidak ada kecurigaan," ucapnya.

Dia pun menyinggung berdasarkan penyidikan, pemeriksaan saksi-saksi, termasuk olah TKP dan gelar perkara, kepolisian, dalam hal ini Polrestabes Semarang, sudah menetapkan bahwa Iko meninggal akibat kecelakaan. "Jadi saya kira sesuai SOP atau prosedur penyidikan kecelakaan lalu lintas," kata Artanto.

Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Qothrunnada Wahid, mengunjungi kediaman almarhum Iko Juliant Junior di Ngaliyan, Kota Semarang, Jateng, pada Rabu (10/9/2025). "Saya dan para pemuka agama, teman-teman dari Gusdurian, berkunjung ke rumah keluarga Iko Juliant, karena Iko ini masuk di dalam sepuluh nama korban jiwa selama prahara Agustus. Jadi kami ingin memberikan penguatan," kata Alissa saat diwawancara awak media.

Alissa mengungkapkan, dalam kunjungannya, dia berbincang dengan ibunda Iko. Putri Presiden RI ke-4 itu mengaku ingin mendengar langsung kronologi kematian Iko dari ibunya. Selain itu Alissa ingin mengetahui pribadi almarhum Iko.

Alissa mengetahui adanya pihak-pihak yang belum sepenuhnya mempercayai bahwa Iko meninggal akibat kecelakaan. Dia mendesak kepolisian agar transparan dalam penanganan kasus kematian Iko.

"Karena mengaku memiliki CCTV (yang memperlihatkan momen Iko kecelakaan), ya sudah dibuka saja, supaya terang," ujarnya.

Alissa mengingatkan rekam jejak kekerasan eksesif yang dilakukan institusi kepolisian sudah berlangsung selama bertahun-tahun. "Jadi kalau sekarang masyarakat membutuhkan data konkret, itu wajar. Polisi kan mengatakan (kasus Iko) ini kan kecelakaan, kalau dibuka CCTV-nya memang kecelakaan, kan sudah kita semua enak, kita tidak berprasangka lagi," ucapnya.

Menurutnya, jika polisi secara gamblang membuka penyebab kematian Iko, hal itu akan turut memberikan ketenangan kepada keluarga almarhum. "Jadi kalau ada CCTV-nya, beliau (ibunda Iko) bisa melihat, 'Oh memang betul-betul kecelakaan', pasti beliau akan lega," ujar Alissa.

Ketua Pusat Bantuan Hukum (PBH) Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum (IKA-FH) Unnes, Ady Putra Cesario, mendesak kepolisian agar segera merilis rekaman kamera pengawas atau CCTV yang memperlihatkan peristiwa kecelakaan Iko Juliant Junior. Hal itu guna memperjelas penyebab kematian Iko, mahasiswa FH Unnes Angkatan 2024.

"Kami mendesak kepolisian membuka CCTV karena kami lihat ada beberapa titik CCTV di lokasi kejadian," kata Ady kepada Republika, Selasa (9/9/2025).

Pekan lalu Polda Jateng dan Polrestabes Semarang diketahui telah menggelar olah TKP di Jalan Veteran, lokasi kecelakaan sepeda motor yang melibatkan Iko. Namun Ady mengaku PBH IKA-FH Unnes maupun perwakilan keluarga almarhum Iko tidak diberitahukan tentang olah TKP tersebut.

"Kami berharap ada upaya apapun pihak keluarga dan kami dikabari untuk dilibatkan," ujar Ady.

Dia mengungkapkan, Ilham, teman almarhum Iko yang turut terlibat kecelakaan, berangsur pulih dan tak lagi menjalani rawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Kariadi. Namun Ady mengaku belum melakukan perbincangan dengan Ilham untuk menggali lebih dalam perihal kronologis peristiwa sebelum Iko meninggal.

"Kami beri waktu untuk pemulihan kesehatan. Kemarin kita juga kirim donasi untuk support," kata Ady saat ditanya soal Ilham.

Iko meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Kariadi pada 31 Agustus 2025. Pada 30 Agustus 2025 malam, Iko pergi dari rumahnya bersama seorang temannya. Menurut keterangan yang diperoleh PBH IKA-FH Unnes, malam itu, Iko hendak menyusul teman-temannya yang ditangkap pascademonstrasi di depan Mapolda Jateng.

PBH IKA-FH Unnes mengatakan, keluarga Iko memperoleh kabar bahwa Iko dirawat di RSUP Dr.Kariadi pada 31 Agustus 2025 siang, sekitar pukul 11:00 WIB. Kondisi Iko sudah kritis. Dia meninggal setelah sempat menjalani operasi akibat pendarahan di bagian limpa.

Menurut PBH IKA-FH Unnes, saat terbaring di rumah sakit, Iko sempat mengigau dan mengucapkan, "Ampun, Pak. Jangan pukulin saya lagi". Hal itu memantik kecurigaan PBH IKA-FH Unnes. Kecurigaan itu menguat karena mereka turut menemukan luka lebam pada tubuh Iko.