Polantas Menyapa: Samsat Semarang I Gelar Pelatihan Public Speaking, Dorong Pelayanan Publik yang Ramah dan Humanis
SEMARANG - Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan publik dan memperkuat kemampuan komunikasi para petugas, Samsat Kota Semarang I menggelar kegiatan pelatihan public speaking pada Jum'at, 31 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 2 Samsat Kota Semarang I ini diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari personel Polri, PHL Samsat, pegawai Bapenda, serta petugas keamanan.
Pelatihan ini menghadirkan tim narasumber dari BNI Cabang Semarang, yakni Yurika selaku Wakil Pimpinan Cabang, Galih Maulana dari Service Management, dan Yanti dari Sales. Adapun tema yang diusung menggambarkan semangat pelayanan yang ramah dan membangun kepercayaan masyarakat, yaitu “Pergi dengan Senyum, Kembali dengan Percaya.”
Pamin Samsat 1, Iptu Ihsan Hamami menyampaikan, komunikasi merupakan faktor penting dalam menciptakan pelayanan yang humanis, ramah, dan berkualitas. Setiap petugas, katanya, perlu memahami bagaimana berbicara, bersikap, serta berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki karakter berbeda-beda. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini hendaknya diikuti dengan keseriusan dan semangat belajar.
Memasuki sesi utama, Galih Maulana membuka materi bertajuk “Pelayanan dengan Hati.” Ia menjelaskan pentingnya kesan pertama dalam pelayanan. Menurutnya, petugas Samsat adalah wajah pertama institusi yang dilihat wajib pajak. Karena itu, pelayanan harus dilakukan dengan hati, bukan hanya sebagai rutinitas administratif.
Galih juga mengajak peserta untuk mengubah pola pikir dari sekadar bekerja menjadi melayani, serta menjadikan setiap interaksi sebagai bentuk pengabdian sosial yang berdampak positif bagi masyarakat.
Dalam paparannya, ia menyoroti tiga hal penting yang perlu diperhatikan petugas, yakni sikap yang ramah dan sopan, kemampuan komunikasi yang jelas dan adaptif, serta penampilan yang rapi sebagai bagian dari citra institusi. Galih menegaskan pelayanan yang baik berawal dari sikap yang positif dan empatik.
Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik. Peserta diajak melakukan latihan artikulasi, intonasi, dan ekspresi suara agar lebih percaya diri dan terbiasa berbicara di depan publik. Latihan ini berlangsung dengan suasana hangat dan penuh semangat, di mana beberapa peserta tampil secara langsung untuk mempraktikkan kemampuan berbicara dan berinteraksi.
Sesi berikutnya dibawakan oleh Yurika yang membahas cara menghadapi komplain masyarakat dengan empati. Ia menekankan bahwa keluhan bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk memperbaiki kualitas pelayanan. Dalam penjelasannya, ia menguraikan langkah-langkah menghadapi komplain, mulai dari menempatkan diri di posisi wajib pajak, memahami masalah, memberikan konfirmasi, hingga mencari solusi yang tepat dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Yurika juga memperkenalkan konsep “Magic Words”, yaitu kata-kata sederhana namun bermakna besar seperti “maaf”, “tolong”, “terima kasih”, dan “permisi.” Menurutnya, kata-kata tersebut mencerminkan empati dan kesopanan yang dapat menciptakan suasana pelayanan yang hangat. Sebaliknya, ia mengingatkan agar petugas menghindari ucapan yang bersifat menyalahkan atau menolak, seperti “tidak bisa” atau “sudah dari dulu seperti ini,” karena hal itu dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi pelayanan atau role play. Dalam simulasi ini, dua kelompok peserta menampilkan skenario pelayanan, yaitu perpanjangan STNK lima tahunan dan mutasi keluar kendaraan. Melalui simulasi ini, peserta berlatih langsung bagaimana menerapkan komunikasi yang efektif dan empatik di situasi nyata. Setelahnya, narasumber memberikan evaluasi mengenai gaya berbicara, ekspresi tubuh, serta pemilihan kata, dengan penekanan agar setiap petugas terus berlatih dan memperbaiki cara berkomunikasi sehari-hari.
Kegiatan ini turut diapresiasi oleh Kasubdit Regident Ditlantas Polda Jateng, AKBP Prianggo Parlindungan Malau, S.I.K., S.H., yang menegaskan pentingnya pelatihan komunikasi bagi petugas pelayanan publik.
“Samsat itu etalase Polri. Ketika masyarakat datang, yang mereka lihat pertama kali adalah keramahan dan kesiapan petugas. Dengan komunikasi yang baik, pelayanan bisa terasa lebih cepat, jelas, dan menyenangkan,” ujar AKBP Prianggo.
Perwira menengah yang dikenal aktif mendorong inovasi pelayanan ini menambahkan, program seperti ini menjadi bentuk nyata komitmen Ditlantas Polda Jateng dalam mengimplementasikan nilai-nilai Presisi Polri, terutama di bidang pelayanan publik.
“Kami ingin semua petugas punya kemampuan berbicara dan mendengar dengan empati. Karena pelayanan yang baik tidak hanya soal administrasi, tapi juga tentang bagaimana masyarakat merasa dihargai,” imbuhnya.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Banyak peserta mengaku mendapatkan wawasan baru yang langsung bisa diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
“Selama ini kami fokus pada ketepatan prosedur. Tapi ternyata cara menyapa dan menyampaikan informasi juga sangat berpengaruh pada kepuasan masyarakat,” kata Rina, salah satu pegawai Bapenda yang ikut pelatihan.
“Saya jadi lebih percaya diri melayani wajib pajak. Kadang yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar kecepatan, tapi juga senyum dan kesabaran,” tambah Briptu Wahyu, personel Polantas yang bertugas di loket pelayanan.
Kegiatan pelatihan diakhiri dengan penutupan oleh Pamin 1 STNK yang memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber atas antusiasme selama kegiatan berlangsung. Dalam arahannya, ia mengingatkan bahwa pelayanan publik bukan hanya sekadar kewajiban, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat. Ia menekankan pentingnya sikap, gestur, dan penampilan dalam menciptakan pelayanan yang profesional dan berwibawa. (*)