Pelanggaran Lalu Lintas di Malang Kota Naik, Tapi Angka Kecelakaan Justru Turun
MALANG KOTA - Operasi Patuh Semeru 2025 resmi berakhir Minggu lalu (27/7). Selama dua pekan, polisi mencatat ada peningkatan pelanggaran lalu lintas (lalin). Kabar baiknya, jumlah kecelakaan mengalami penurunan.
Kanit Gakkum Polresta Malang Kota Iptu M. Isrofi menyebut bahwa jumlah pelanggaran lalin meningkat 44 persen dibanding Operasi Patuh Semeru 2024. ”Lalu kecelakaannya menurun 14 persen,” kata dia. Isrofi merinci, tahun ini pihaknya mencatat ada 3.956 pelanggaran.
Terdiri dari 2.163 pelanggaran yang tercatat pada ETLE statis, 312 pelanggaran pada ETLE mobile, dan 1.481 tilang manual.
”Jika dirinci yang paling banyak adalah pengendara yang tidak menggunakan helm sebanyak 1.486 orang,” ungkap Isrofi. Dilanjutkan dengan 1.420 orang yang tidak menggunakan sabuk pengaman.
Pelanggaran lainnya seperti knalpot brong sebanyak 652 orang, melawan arus 293 orang, berkendara menggunakan ponsel 66 orang, dan berkendara di bawah umur sebanyak 39 orang. Sementara pada periode sebelumnya, polisi mencatat ada 2.756 pelanggaran. Meliputi 1.847 pelanggaran dari ETLE statis, 646 pelanggaran dari ETLE mobile, dan 263 pelanggaran dari tilang manual.
”Kalau untuk kecelakaan pada periode sekarang tercatat ada enam kejadian,” sebut Isrofi. Jumlah itu turun dari tahun 2024 sebanyak 7 kejadian. Isrofi menambahkan, meski Operasi Patuh Semeru berakhir, pihaknya bakal terus melakukan pemantauan terhadap pengendara yang tidak patuh. Polisi juga memberikan sanksi tilang sebagai efek jera. Itu bertujuan untuk mengurangi tingkat fatalitas atau kecelakaan di jalan.