Nala 2 Gaungkan Polri Humanis Lewat Acara Minggu Sehat Bersama Warga
Bengkulu – Suasana Minggu pagi di Kota Bengkulu mendadak semarak. Ratusan warga tampak antusias mengikuti kegiatan “Minggu Sehat Bersama Nala 2” yang digelar di ruang publik terbuka. Namun ada yang berbeda kali ini—Wakapolda Bengkulu, Brigjen Pol. Drs. Solihin, S.I.K., M.H., CspHr. turut hadir dan membaur langsung bersama masyarakat.
Dengan mengenakan kaos olahraga dan senyum ramah, Brigjen Solihin tak hanya memantau jalannya kegiatan, tetapi juga ikut senam dan lari kecil bersama warga. Momen inilah yang membuat masyarakat terkejut sekaligus terkesan: seorang jenderal polisi hadir tanpa jarak, penuh kehangatan.
“Saya kaget sekaligus bangga bisa senam bareng langsung dengan Wakapolda. Ini bukti kalau polisi sekarang semakin terbuka dan ramah,” ujar Rina (42), salah satu peserta senam.
Mengusung filosofi Mens sana in corpore sano — dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat — kegiatan ini bukan sekadar olahraga mingguan biasa. Di balik gerakan senam dan langkah lari, terselip pesan kuat: Polri hadir untuk rakyat, bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai sahabat dalam kehidupan sosial.
Brigjen Solihin menegaskan bahwa keterlibatan Polri dalam kegiatan semacam ini adalah wujud nyata komitmen transformasi institusi menuju Polri yang lebih humanis, terbuka, dan partisipatif.
“Kami ingin membangun kedekatan yang lebih erat dengan masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kami hadir tidak hanya sebagai aparat, tapi juga sebagai bagian dari komunitas,” kata Brigjen Solihin kepada awak media di lokasi kegiatan.
Kegiatan “Minggu Sehat Bersama Nala 2” juga diisi dengan edukasi ringan seputar pentingnya pola hidup sehat, pemeriksaan tekanan darah gratis, serta pembagian minuman sehat. Sejumlah personel Polda Bengkulu dari berbagai satuan turut ambil bagian, memperlihatkan wajah Polri yang aktif, bersahabat, dan bisa diandalkan dalam segala lini kehidupan masyarakat.
Tidak sedikit warga yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog langsung, menyampaikan keluhan maupun apresiasi. Situasi informal seperti inilah yang perlahan menciptakan jembatan komunikasi yang lebih kuat antara Polri dan masyarakat.
Dulu, aparat keamanan seringkali diasosiasikan dengan ketegasan dan penindakan. Kini, wajah Polri mulai berubah. Melalui pendekatan yang lebih humanis, Polri berupaya hadir sebagai pelindung dan pengayom yang tidak sekadar ‘siaga’, tapi juga ‘menggugah’.
Melalui kegiatan seperti ini, Polda Bengkulu membuktikan bahwa menjadi polisi bukan sekadar menjaga hukum, tetapi juga membangun harapan.