Ketua MDA: Pecalang Garda Terdepan Lawan Preman Berkedok Ormas di Bali

Ketua MDA: Pecalang Garda Terdepan Lawan Preman Berkedok Ormas di Bali

BALI - Ribuan pecalang dipimpin oleh Bendesa Adat dari seluruh Bali menyatakan sikap menolak ormas yang berkedok menjaga keamanan dan ketertiban dengan tindakan premanisme serta mendukung Sipandu Beradat dan TNI-Polri dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di Bali.

Sebanyak 13.000 pecalang dari 1.500 desa adat se-Bali, sepakat dan mendeklarasikan penolakan terhadap hadirnya preman yang berkedok organisasi kemasyarakatan (ormas). Deklarasi tersebut disampaikan di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala, Denpasar.

Bendesa Agung Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, menegaskan pecalang Bali menjadi garda terdepan menjaga adat, budaya, tradisi, dan kearifan lokal Bali.

“Pecalang Bali sejak leluhur sudah menjaga Bali, nindihin gumi Bali. Pecalang Bali menolak kriminalisme, premanisme, dan sikap anarkis yang dilakukan preman berbaju ormas dan berkedok ormas,” kata Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet.

Dalam deklarasi tersebut terdapat tiga poin penting yang disampaikan, yaitu menolak kehadiran ormas yang berkedok menjaga keamanan ketertiban dan sosial dengan tindakan premanisme tindak kekerasan dan intimidasi masyarakat sehingga menimbulkan keresahan dan ketegangan di tengah masyarakat Bali. Poin kedua, mendukung TNI–Polri dalam penyelenggaraan keamanan dan ketertiban di Bali. Poin ketiga, menindak tegas ormas yang melakukan tindakan premanisme dan kriminalisasi yang meresahkan masyarakat.

Para pecalang juga mendeklarasikan mendukung sistem keamanan terpadu berbasis desa adat (Sipandu Beradat) dan bantuan keamanan desa adat (Bankamda) dalam menjaga dan mengamankan wewidangan desa adat dan nindihin gumi Bali

Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait dengan isu terhadap ormas yang kian berkembang.

Deklarasi ini merupakan respons atas munculnya fenomena premanisme berkedok ormas yang mulai marak di Bali. Dia juga menegaskan, selama bertahun-tahun dan secara turun menurun, desa adat di Bali telah memiliki pecalang untuk menjaga keamanan di setiap kegiatan di desa adat di Bali. Berkolaborasi dengan aparat dari kepolisian dan TNI, sehingga dianggap sudah sangat cukup untuk menjaga keamanan di Bali.

Dia juga menyampaikan bahwa pihaknya telah berupaya menjalin komunikasi dengan pemerintah provinsi terkait kesejahteraan pecalang, termasuk soal insentif. Dia berharap, kepemimpinan daerah saat ini memberikan perhatian lebih terhadap eksistensi pecalang sebagai garda terdepan dalam menjaga adat dan budaya Bali.

Penyarikan Utama Pasikian Pecalang Bali Ngurah Pradnyana menambahkan deklarasi belasan ribu pecalang dari 1.500 desa adat se-Provinsi Bali ini disiapkan dengan sangat singkat, hanya tiga hari.

Kegiatan ini adalah respons dari fenomena kehadiran ormas di Pulau Dewata yang membuat para pecalang di desa adat berbondong-bondong membuat video penolakan, namun bahaya jika menjadi bias dan tidak langsung difasilitasi.