Ketua DPRD Cilacap Geram, Soroti Kasus Bullying yang Tewaskan Siswa Madrasah

Ketua DPRD Cilacap Geram, Soroti Kasus Bullying yang Tewaskan Siswa Madrasah

CILACAP - Ketua DPRD Kabupaten Cilacap, Taufik Nurhidayat, turun tangan langsung dalam kasus dugaan perundungan yang berujung tewasnya seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Widarapayung Kulon berinisial FF.

Ia menepis alasan birokrasi terkait kewenangan antara Kemenag dan Dinas Pendidikan, dan akan memanggil semua pihak terkait untuk rapat dengar pendapat.

"Masyarakat tidak tahu itu kewenangan siapa atau mana. Masyarakat tidak boleh ribet mikirkan itu kewenangan siapa. Ini masyarakat Cilacap," tegas Taufik melalui sambungan telepon, Kamis (3/7/2025) petang.

Ia mengaku geram saat mengetahui adanya keraguan untuk menangani kasus ini secara kelembagaan karena status sekolah yang berada di bawah Kemenag.

"Insyaallah besok (Jumat), Dinas Pendidikan dan Kemenag serta pihak MI-nya, kita undang, kita akan rapat," ujarnya.

Langkah tegas ini diambil setelah kasus ini viral dan memicu kemarahan publik.

Korban, FF (10), adalah seorang anak yatim berkebutuhan khusus (ABK) dengan riwayat penyakit jantung.

Ia meninggal dunia pada 30 Juni 2025 setelah dirawat akibat depresi berat, yang diduga kuat dipicu oleh perundungan terus-menerus dari teman-temannya.

Kasus ini menjadi sorotan tajam setelah video yang memperlihatkan FF ketakutan di atas pohon yang diguncang oleh teman-temannya beredar luas.

Publik semakin marah setelah muncul dugaan bahwa laporan keluarga sebelumnya tidak ditanggapi serius karena salah satu terduga pelaku merupakan cucu dari kepala sekolah madrasah tersebut.

Pihak sekolah diketahui hanya menggelar musyawarah internal dan memberikan santunan Rp10 juta kepada keluarga, sebuah langkah yang dinilai publik tidak sepadan dengan hilangnya nyawa seorang anak.

Bagi Taufik, kasus ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan cerminan dari "cacat moral" yang berbahaya.

"Yang tidak benar itu pada saat melakukan kesalahan, tapi tidak merasa bersalah. Ini yang harus menjadi cerminan, karena ini terjadi di lingkungan sekolah," katanya dengan nada prihatin.

Dengan intervensi langsung dari pimpinan DPRD, kini ada harapan baru bagi keluarga korban dan masyarakat agar kasus ini diusut tuntas, transparan, dan tidak berakhir hanya dengan selembar uang santunan.