Insiden May Day: Polda Jateng Tawar-menawar dengan 4 Mahasiswa setelah Intel Disandera
Jakarta – Peringatan Hari Buruh di depan kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis kemarin, diwarnai ricuh. Ratusan mahasiswa berusaha menyelamatkan diri ke kampus Universitas Diponegoro karena dikepung polisi yang membubarkan paksa dengan tembakan gas air mata dan water cannon.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan sebanyak 18 mahasiswa ditangkap. "Mahasiswa dikejar aparat kepolisian," ujar Usman Hamid dalam keterangannya, Jumat (2/5).
Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum Semarang mengatakan hingga Jumat pagi masih ada 14 peserta aksi yang ditahan polisi. “Meski sempat dilarang masuk untuk memberikan bantuan hukum, tim advokasi berhasil masuk dan mendampingi,” bunyi rilis LBH Semarang.
Media sosial viral mengenai pengepungan mahasiswa di kampus Undip hingga penangkapan seorang intel yang menyusup dalam aksi May Day. Mahasiswa sempat menyandera sang penyusup dan menanyakan identitasnya. Pria tersebut mengaku sebagai anggota Polda Jateng bernama Yanto dengan pangkat Brigadir.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto membenarkan ada personelnya dibawa mahasiswa. Artanto menyebutkan inisialnya EZ, tetapi sudah dijemput Wakapolda Brigjen Latif Usman yang berkoordinasi dengan Rektorat Undip pada Kamis malam kemarin.
"Alhamdulillah anggota kami sudah berhasil dijemput dan sudah keluar dari kampus dan kembali ke kantor," kata Artanto.
Artanto juga membenarkan bahwa polisi membawa 18 orang dalam aksi Hari Buruh, tetapi sebanyak 4 orang sudah diantar pulang. Ia membantah pemulangan 4 mahasiswa itu sebagai barter dengan intel yang disandera mahasiswa. "Sifatnya koordinasi sehingga anggota bisa dikeluarkan," ia menjelaskan.
Sedangan 14 peserta aksi yang kini masih di Polda Jateng karena diduga berbuat anarkis di depan kantor Gubernur Jateng. (*)