Hadapi Hoaks di Era Digital: Tanggung Jawab Bersama Cegah Penyebaran

Hadapi Hoaks di Era Digital: Tanggung Jawab Bersama Cegah Penyebaran

SEMARANG - Hingga saat ini hoaks atau berita bohong menjadi tantangan serius bagi masyarakat di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang serba cepat.

Hoaks merupakan kabar, informasi, berita yang palsu atau bohong, informasi yang dibuat-buat atau direkayasa untuk menutupi yang sebenarnya.

Dengan kata lain, hoaks diartikan sebagai upaya pemutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan akan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

"Hanya dengan sekali klik, sebuah informasi menyesatkan bisa menyebar luas, menimbulkan keresahan, mendiskreditkan kepercayaan terhadap pemerintah dan kepolisian," ujar Mukhamad Nur Huda, Tokoh Masyarakat Jawa Tengah.

Dikatakan, hoaks tentu saja akan merepotkan berbagai pihak, dapat menyulut pertikaian horizontal maupun vertikal.

Bisa menimpa siapa saja sehingga pihak berwenang selalu berusaha untuk meluruskan sebuah berita hoaks.

Namun di sebuah negara demokrasi, berbicara merupakan hak setiap individu dan dilindungi undang-undang.

Jadi, setiap individu berhak memberikan pernyataan apapun.

"Masalahnya bila berita hoaks ini diamini oleh banyak khalayak dan dibicarakan terus menerus, dapat mengganggu ketenangan publik," kata pria yang juga anggota KPID Jawa Tengah ini.

Efek dari berita hoaks adalah bisa memecah belah, menurunkan kepercayaan, dan menimbulkan kegaduhan sosial.

Karena itu, setiap individu memiliki peran besar dalam memutus rantai penyebaran berita bohong.

"Langkah-langkah kecil yang dapat dilakukan masyarakat seperti memeriksa sumber, membaca dengan teliti, dan memastikan kebenaran berita, dapat menjadi benteng utama melawan hoaks," kata dia.

Kebiasaan sederhana seperti memeriksa sumber, membaca dengan teliti, dan memastikan kebenaran berita akan membentuk masyarakat yang cerdas dan tahan terhadap manipulasi informasi.

Melalui pendekatan persuasif, aparat pun membuka ruang dialog dan edukasi.

Tujuannya sederhana mengingatkan semua pihak untuk lebih bijak dalam mengelola informasi di ruang digital.

"Walaupun ini sulit dilakukan, mari kita menjaga ruang digital tetap sehat dan aman."

"Ingat, Saring sebelum sharing. Bersama, kita bisa melawan hoaks," tegasnya. (*)