Eks Napiter Hadiri HUT Bhayangkara 2025: Bukti Nyata Kembalinya Cinta pada NKRI
JAKARTA - Ada momen berbeda di peringatan Hari Bhayangkara ke-79 tahun ini. Selain dihadiri Presiden Prabowo dan sejumlah tokoh nasional, upacara yang digelar di Monas ini juga diwarnai kehadiran orang-orang yang dulu pernah dicap sebagai ancaman—yakni mantan narapidana terorisme (napiter).
Salah satu sorotan utama datang dari Satgaswil Densus 88 Jawa Barat, yang turut mengirimkan sekitar 60 orang eks napiter asal Jawa Barat ke Jakarta untuk mengikuti momen bersejarah ini. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat dari kemenangan atas ideologi kekerasan, dan bukti bahwa jalan pulang ke pangkuan NKRI selalu terbuka.
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Ini adalah bagian dari transformasi besar yang sedang dibangun oleh Polri dan berbagai elemen masyarakat, bahwa siapa pun punya kesempatan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi.
Hadirnya eks napiter dalam upacara Bhayangkara bukan sekadar simbol. Mereka duduk bersama ribuan peserta lain, mengikuti setiap rangkaian acara dengan khidmat. Ini menjadi pesan kuat bahwa kesetiaan pada NKRI bisa tumbuh kembali, bahkan dari orang-orang yang dulunya pernah tersesat.
Beberapa dari mereka bahkan aktif mengedukasi masyarakat, menjadi duta damai, dan menyuarakan pentingnya menjaga persatuan. Dalam keterangan terpisah, beberapa eks napiter menyebut momen ini sebagai bentuk “pembuktian diri” bahwa mereka benar-benar ingin menjadi bagian dari solusi, bukan masalah.
Eks napiter yang hadir di upacara HUT Bhayangkara 1 Juli 2025 mengajarkan kita satu hal penting: semangat kembali ke jalan damai adalah bagian dari cinta tanah air. Deradikalisasi bukan berarti melemah, tapi justru memperkuat akar persatuan bangsa.
Mari terus jaga semangat ini. Karena Indonesia milik kita bersama, dan perdamaian harus dirawat—dimulai dari hati.