Diduga karena Puding Basi, 20 Siswa SDN Ungaran Semarang Keracunan MBG

Diduga karena Puding Basi, 20 Siswa SDN Ungaran Semarang Keracunan MBG

SEMARANG - Dua puluh siswa SDN Ungaran 01 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi puding dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, menengarai, puding tersebut telah basi.

"Dugaan sementara yang terjadi di SDN 01 Ungaran itu dari pudingnya. Dari puding itu kelihatannya sudah basi. Karena saya cium, itu sudah bau," kata Joko ketika dihubungi, Kamis (2/10/2025).

Dia mengungkapkan, setelah mengonsumsi puding selepas kegiatan olahraga, ke-20 siswa SDN Ungaran 01 mengalami mual dan pusing. Joko menyebut, tim dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Semarang, turut membantu penanganan ke-20 murid tersebut.

"Anak-anak itu dikasih obat. Tapi ada tiga siswa yang mengalami agak berat (gejalanya), itu dilarikan ke rumah sakit," kata Joko, seraya menambahkan ketiga anak tersebut mengalami muntah lebih banyak dibandingkan siswa lainnya serta mengalami sesak napas.

Menurut Joko, menu MBG yang disajikan di SDN Ungaran 01 pada Selasa (30/9/2025) lalu terdiri dari nasi, tahu, rendang, dan lalapan timun. Dia mengatakan, penyebab pasti mengapa ke-20 siswa SDN Ungaran 01 mengalami gejala seperti keracunan harus menunggu hasil uji lab dari menu MBG terkait.

Sementara itu Kepala Dinkes Kabupaten Semarang, Dwi Saiful Noor Hidayat, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus dugaan keracunan yang dialami 20 siswa SDN Ungaran 01 pada Selasa lalu. "Masih dalam penyelidikan. Baru diambil sampel, kami belum bisa menyimpulkan itu keracunan atau tidak. Karena dari 4.000 (porsi) makanan, yang terkena tanda-tanda sedikit mual, sedikit pusing, hanya 20 dan hanya dari satu kelas," ucapnya ketika dihubungi pada Kamis (2/10/2025).

Dwi mengisyaratkan keraguan bahwa ke-20 siswa yang duduk di kelas IV SDN Ungaran 01 mengalami mual dan pusing akibat keracunan MBG. Hal itu karena kasus tersebut terkonsentrasi pada lingkup kecil.

"Kalau tipikal keracunan kan begini: masaknya jadi satu, diolah juga jadi satu, bahannya sama, kalau keracunan kan keracunan semua. Makanya ini baru penyelidikan, termasuk (uji) laboratorium, dan lain sebagainya," ucap Dwi.

Berbeda dengan keterangan Joko Sriyono, Dwi menyebut, ke-20 siswa SDN Ungaran 01 yang diduga keracunan tidak sampai dilarikan ke rumah sakit. Mereka hanya ditangani di UKS, kemudian diperbolehkan pulang. Sementara terkait menu MBG yang dikonsumsi siswa SDN Ungaran 01 pada Selasa lalu, Dwi mengaku tidak hafal.

Menurut Dwi, ke-20 siswa yang diduga keracunan hanya tersugesti dan terkena dampak psikologis dari ramainya pemberitaan terkait dugaan keracunan MBG. "Kalau saya analisa, itu cenderung ke psikologis, karena sudah baca-baca berita itu (dugaan keracunan MBG). Ketika (siswa) selesai olahraga, entah kepanasan atau apa, 'Kok pusing ya' ,'Iya aku pusing', 'Apa karena baru makan MBG?'. Nah bocah-bocah kan biasanya latah. Itu psikologis," ucapnya.

Dwi mengatakan, sejauh ini belum ada kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Semarang, kecuali yang baru saja terjadi di SDN Ungaran 01. Kendati demikian, merespons kejadian dugaan keracunan di SDN Ungaran 01, Dinkes Kabupatan Semarang mengimbau agar satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di wilayahnya tetap mematuhi standar operasional prosedur pengolahan dan penyajian MBG.

"Baiknya semua dapur hati-hati di Kabupaten Semarang. Kemudian semua dapur harus mengajukan sertifikat laik higiene sanitasi," ujar Dwi.