Video Dipotong, Foto Dimanipulasi! Begini Cara Hoaks tentang Ahmad Luthfi Dibuat dan Viral di Medsos
SEMARANG – Gelombang hoaks yang menyasar Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi terus bermunculan di media sosial. Konten menyesatkan tersebut beredar luas melalui berbagai platform digital dengan menggunakan berbagai teknik manipulasi, mulai dari pemotongan video, rekayasa gambar, hingga desain grafis palsu yang dibuat menyerupai berita resmi.
Fenomena ini menjadi perhatian Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, yang menilai penyebaran hoaks semakin cepat karena didorong oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten viral tanpa mempertimbangkan kebenaran informasi.
Kepala Kantor Mafindo, Farid Zamroni, menjelaskan bahwa sebagian besar konten hoaks dibuat dengan cara memotong video dari pernyataan asli, lalu disusun ulang sehingga menimbulkan makna yang berbeda dari konteks sebenarnya.
Menurut Farid, potongan video tersebut kemudian disebarkan kembali dengan judul provokatif agar terlihat seolah-olah menggambarkan fakta yang benar, padahal isi aslinya tidak demikian.
“Video dipotong, lalu diberi narasi baru yang tidak sesuai konteks. Ini salah satu modus paling sering digunakan untuk membuat hoaks terlihat meyakinkan,” ujarnya.
Selain manipulasi video, hoaks juga dibuat menggunakan foto dan desain grafis yang dimodifikasi agar tampak seperti berita resmi dari media kredibel. Cara ini dinilai sangat efektif karena banyak pengguna media sosial hanya melihat tampilan tanpa mengecek sumber informasi.
Farid mengatakan, penyebaran hoaks semakin cepat karena sistem algoritma platform digital cenderung mendorong konten yang ramai dibagikan, dikomentari, atau menimbulkan emosi, meskipun konten tersebut belum tentu benar.
Akibatnya, informasi palsu bisa menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasi atau berita yang telah diverifikasi.
“Algoritma media sosial membuat konten viral lebih mudah muncul di beranda pengguna. Kalau masyarakat tidak kritis, hoaks akan lebih cepat dipercaya,” kata Farid.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar, terutama jika konten tersebut mengandung judul sensasional, potongan video tanpa konteks, atau gambar yang terlihat mencurigakan.
Mafindo menyarankan beberapa langkah sederhana untuk mencegah penyebaran hoaks, antara lain memeriksa sumber informasi, memastikan ada konfirmasi dari media terpercaya, serta menggunakan situs pemeriksa fakta seperti TurnBackHoax dan CekFakta.
Farid menegaskan bahwa literasi digital menjadi kunci utama agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi palsu, terutama di tengah perkembangan teknologi yang membuat manipulasi konten semakin sulit dibedakan dengan fakta.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis harus menjadi kebiasaan pengguna media sosial agar ruang digital tidak dipenuhi oleh informasi yang menyesatkan.
“Jangan langsung percaya. Periksa dulu sumbernya, cek faktanya, baru bagikan. Itu cara paling sederhana untuk menghentikan hoaks,” tegasnya.
Mafindo berharap masyarakat semakin bijak dalam menggunakan media sosial, sehingga penyebaran informasi palsu yang menyasar tokoh publik maupun kebijakan pemerintah tidak terus berulang dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. (*)