Tanah Gerak di Jatinegara Tegal Rusak 104 Rumah dan Pondok Pesantren
Tegal - Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal dilanda tanah gerak. Sebanyak 104 rumah warga, pondok pesantren, dan fasilitas umum rusak.
Tanah gerak mulai terjadi hari Minggu (1/2) dan paling parah terjadi Senin (2/2) kemarin. Kejadian ini diakibatkan hujan deras yang mengguyur di kawasan ini sejak beberapa hari terakhir.
Satgas Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tegal, M Wisnu Imam, menjelaskan ada 104 rumah rusak akibat bencana ini. Adapun jumlah keluarga yang terdampak sebanyak 150 kepala keluarga atau 470 jiwa.
Permukiman di Desa Padasari yang terdampak berada di RW 02, RT 6, 7, 8, 9. RW 03, RT 12, 13, 14 dan 15. RW 04 RT 10, 11, 16, 17 dan18. Dukuh Tigasari RW 02, RT 03, dan 04. Dukuh Padareka RW 01 RT 1, 2 dan 3.
"Jumlah sementara ada 104 rumah yang rusak. Kejadian mulai Minggu dan tanah terus gerak hari Senin sudah parah," ungkap M Wisnu Imam saat dihubungi, Selasa (3/2/2026)
Kejadian ini juga merusak infrastruktur di desa ini. Yaitu tiga titik kerusakan di jalan desa dan jalan kabupaten, satu bendung irigasi, dan satu jembatan desa. Ada pula bangunan musala ikut terdampak di RW 2, RT 6.
Fasilitas pendidikan yang terdampak yakni SDN Padasari 01, SMA Al Adalah, Ponpes Al Adalah, PAUD Al-Muna Padasari, MI Padasari, MDTA Nurul Atfal. Kemudian ada fasilitas kesehatan yakni Polindes Padasari juga terdampak.
"Fasilitas jalan, pendidikan, ponpes dan kesehatan ikut rusak," tambahnya.
Sejak kejadian ini, tercatat 17 jiwa dari 5 keluarga mengungsi dan menempati SDN Padasari 01. Mereka adalah keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan parah.
"Untuk yang sangat parah, terpaksa mengungsi di SD. Jumlahnya 17 jiwa atau 5 KK," jelas dia.
Kepala Desa Padasari, Mashuri, menyebut dampak bencana kali ini tergolong paling parah dalam beberapa tahun terakhir. Dari seluruh rumah yang rusak, ada 80 rusak berat dan roboh.
"Ada sekitar 80 rumah rusak parah, beberapa ambruk. Selain itu musala, PAUD, SMA, balai desa, dan jalan penghubung desa juga rusak, bahkan ada yang putus," kata Mashuri.
Mashuri meneruskan, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Mereka langsung menyelamatkan diri saat tanah mulai bergerak.
Saat ini, belum diketahui jumlah kerugian material akibat kejadian ini. Petugas BPBD dan instansi terkait masih melakukan pendataan dan penanganan darurat.
"Kami berharap ada penanganan serius dari pemerintah daerah. Ini bukan kejadian kecil, dampaknya luas dan mengancam keselamatan warga," tuturnya.
Terpisah, Pengurus Pondok Pesantren Al-Adalah, Mohamad Furqon, menceritakan tanah bergerak secara perlahan dan lambat laun merusak bangunan di atasnya. Menurut dia, bangunan ponpesnya juga mengalami kerusakan.
"Awalnya hanya retakan kecil di dinding sejak Senin sore, tapi kondisi terparah terjadi tengah malam. Tanahnya bergerak pelan, tapi dampaknya luar biasa," ujar Furqon.
Saat kejadian, 526 santri putra dan putri masih berada di dalam lingkungan pondok. Bangunan pondok yang rusak terparah di asrama putra 1. Mereka kemudian dipindahkan ke asrama putra 2.
"Waktu kejadian masih ada santri. Yang paling parah Asrama Putra 1. Untuk sementara santri kami pindahkan ke Asrama Putra 2 demi keselamatan," pungkasnya.
sumber: detikjateng