Selama Nataru di Kota Malang: Ratusan Teguran Lalu Lintas, Balap Liar Nihil, Satu Tawuran Mahasiswa Menonjol
Malang – Pelanggaran lalu lintas berupa tidak menggunakan helm masih menjadi masalah utama di Kota Malang. Fakta ini terungkap dari hasil Operasi Lilin Semeru 2025–2026 yang digelar selama 14 hari, mulai 20 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Selama operasi tersebut, Polresta Malang Kota mencatat sebanyak 256 pengendara diberikan teguran simpatik oleh petugas di lapangan. Mayoritas pelanggar merupakan pengendara kendaraan roda dua.
“Pelanggaran paling banyak adalah pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm,” ujar KBO Satlantas Polresta Malang Kota Iptu Saiful Husen, Selasa (6/1/2026).
Selain tidak mengenakan helm, petugas juga kerap mendapati pelanggaran berboncengan lebih dari dua orang. Pelanggaran lain yang cukup sering ditemukan adalah pengendara tidak membawa SIM atau STNK, serta kendaraan yang tidak memasang tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB).
Meski demikian, Saiful memastikan kondisi lalu lintas di sejumlah titik rawan kemacetan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) terpantau relatif aman dan terkendali. Beberapa ruas jalan yang menjadi atensi, seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Soekarno-Hatta, Jembatan Embong Brantas, Jalan Gatot Subroto, Jalan Satsui Tubun, hingga kawasan pusat kota, dapat dilalui tanpa kemacetan berarti.
Kepadatan sempat terpantau di kawasan wisata, khususnya Jalan Jenderal Basuki Rahmat (Kajoetangan Heritage) serta sekitar Jembatan Embong Brantas menjelang perayaan Natal. Namun, kepadatan tersebut dapat segera diurai oleh petugas.
Sementara itu, Kabag Ops Polresta Malang Kota Kompol Wiwin Rusli menegaskan bahwa selama Operasi Lilin Semeru, gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) relatif minim.
“Balap liar, kumpul-kumpul sampai pagi, dan peredaran minuman keras hampir tidak ada. Laporan pencurian di keramaian juga nihil,” kata Wiwin.
Untuk menjaga situasi tetap kondusif, Polresta Malang Kota menempatkan personel di sejumlah titik strategis. Kawasan yang mendapat perhatian khusus antara lain Kajoetangan Heritage, sekitar Stasiun Malang, Balai Kota Malang, Jalan Brawijaya, dan Jalan Soekarno-Hatta.
“Kami sebar 35 personel di kawasan-kawasan tersebut,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaannya, sempat terjadi beberapa insiden ringan seperti keributan antara pemilik kendaraan dengan juru parkir. Namun, setelah ditangani petugas di pos terdekat, insiden tersebut dipastikan hanya miskomunikasi dan berhasil diselesaikan di tempat.
Meski secara umum situasi aman, Wiwin mengungkapkan terdapat kejadian menonjol selama libur Nataru. Salah satunya melibatkan kelompok mahasiswa dan dua warga yang belum menikah, yang terjadi hampir bersamaan pada 26–27 Desember 2025 di wilayah Kecamatan Lowokwaru.
Selain itu, terjadi pula tawuran antarkelompok mahasiswa di Jalan Telaga Warna RW 6, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu mahasiswa meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka.
“Seluruh saksi sudah kami periksa. Saat ini proses penyelidikan masih berjalan dan belum ada penetapan tersangka,” pungkas Wiwin.
Polresta Malang Kota menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pengawasan serta langkah preventif guna menjaga keselamatan lalu lintas dan keamanan masyarakat, khususnya pada momentum libur panjang dan kegiatan masyarakat berskala besar. (*)